top of page

Gemawan Punya Dua Kunci: Hati dan Telinga

Dalam perjalanan Roemah Inspirit ke Pontianak sebagai bagian dari lokakarya Eksplorasi Komunikasi Organisasi (EKO), kami menemukan rahasia di balik kesuksesan Gemawan: kecakapan bercerita dan praktik mendengarkan.


Berada di garis Khatulistiwa membuat suhu Pontianak menyengat di siang hari, namun begitu mengundang ketika pagi. Langit biru jernih berhias awan tipis mengiringi kami menyambangi Rumah Gesit Gemawan. Meski dalam suasana bulan Ramadhan, rasanya pagi ini akan jadi hari yang penuh semangat. Benar saja, ketika sebagian besar penggerak Gemawan berkumpul di ruang tengah yang berbentuk semi-amphitheater, energinya hangat dan terbuka. Kedekatan antar staf sangat terlihat. Lokakarya EKO umumnya berjalan selama hampir sehari penuh. Oleh karenanya, memastikan energi peserta terus terjaga selama keseluruhan acara sangat penting dalam proses fasilitasi. Berada bersama teman-teman Gemawan membuat tugas itu lebih ringan. Diskusi berjalan dengan antusias, diselingi cerita-cerita tentang komparasi situasi Kalimantan Barat dengan provinsi Kalimantan lainnya, juga mimpi besar untuk Borneo, membuat suasana lokakarya dimulai dengan antusiasme tinggi.


Beranjak ke sesi persepsi organisasi, setiap peserta diminta memvisualisasikan organisasinya pada secarik kertas tempel. Kami berkeliling dan mengamati; ada yang menggambar rumah, mobil, dan beberapa gambar lain yang cukup abstrak untuk dapat dimengerti pada pandangan pertama–tapi tak apa! karena semua sama apik dan bermaknanya. Peserta lantas dibagi ke dalam beberapa kelompok di mana setiap anggota dapat merespon gambar anggota lain, sebelum pemilik gambar menjelaskan makna gambar yang ia buat. Teman-teman yang begitu riuh dan ekspresif ketika berbicara di forum besar, berubah tenang dan atentif mendengarkan penjelasan kawan-kawan satu kelompoknya. Ketika fokus salah seorang anggota mulai teralihkan, anggota lain akan mengarahkan untuk kembali mendengarkan cerita dari pemilik gambar. Semua gagasan dilihat penting, dan semua orang punya tempat di pertemuan ini.


Iklim kerja di Gemawan terasa seperti satu keluarga besar yang erat dan selalu siap membantu satu sama lain. Kondisi yang demikian tak dibangun dalam waktu semalam. Ketika menceritakan origin story Gemawan, Dewan Pengurus Gemawan Hermawansyah menjelaskan bahwa sejak awal didirikan, lembaga ini berharap untuk tak sekadar jadi tempat bekerja; namun juga tempat berjuang. Nilai yang sama diaminkan pula oleh para penggerak Gemawan. Ketika menceritakan origin story individu, sebagian besar anggota mengaku bergabung ke dalam Gemawan karena merasa tersentuh dengan upaya yang dilakukan Gemawan, serta inisiatif perubahan yang dibawanya.


Gemawan juga tak mengikuti proses perekrutan konvensional. Kerap kali keinginan bergabung ke dalam Gemawan justru lahir dalam pertemuan non-formal yang dilakukan di warung makan atau kedai kopi. Objektif dari pertemuan itupun tak selalu berfokus pada hasil–seperti sukses menggaet staf baru atau menemukan ide program–namun lebih kepada berbagi cerita.




Arniyanti Arni, Lead Training Gemawan, menjelaskan bahwa lembaga yang punya arti nama ‘awan yang bergerak cepat’ ini menganut budaya yang sangat demokratis. Setiap anggota–terlepas dari jenjang umurnya–memiliki posisi yang setara dalam ruang diskusi Gemawan. Aspek ini dapat terlihat pula dari keberagaman tim Gemawan, salah satu faktor yang dilihat sebagai kekuatan lembaga adalah sumber daya manusianya yang terbuka dan intergenerasional. Perbedaan usia itu justru dimaknai sebagai sebuah kelebihan, karena dengan itu Gemawan mampu menghasilkan ide yang lebih variatif. Dalam menyelaraskan perbedaan yang ada, Arni melihat kemampuan mendengarkan sebagai kunci. “Karena Gemawan membangun pendekatan personal, ide pribadi ke ide kolektif, mendengarkan menjadi sangat penting.” ujar Arni.


Arni juga menerangkan bahwa dampak dari pendekatan personal yang diimplementasikan Gemawan tak terbatas pada sesama anggota saja, namun juga mitra kerja mereka. Mengingat pengalamannya di Kampung Beting–salah satu wilayah di Pontianak yang didapuk pemerintah sebagai bermasalah karena tingginya angka pengedar dan pengguna narkoba–Arni menjelaskan bagaimana menciptakan narasi dan media yang tepat berperan penting pada kesuksesan program Gemawan.


Ketika mengidentifikasi masalah di Kampung Beting, Gemawan menyadari bahwa selagi kelompok dewasanya terkesan ‘tak terselamatkan’, kelompok muda di Kampung Beting masih terbuka terhadap kemungkinan masa depan yang lebih cemerlang. Bekerja sama dengan seniman, mahasiswa, dan siswa SMA, Gemawan memproduksi komik yang berkisah tentang wajah Kampung Beting dalam 5 tahun mendatang. Respon terhadap inisiatif ini ternyata di luar dugaan. Anak-anak tak hanya antusias, namun juga sangat apresiatif terhadap upaya yang dilakukan Gemawan. “Kampanye menyasar orang tua cukup sulit, kurang efektif menawarkan alternatif profesi bagi kelompok dewasa. Oleh karenanya, fokus komunikasi berubah menjadi dorongan kepada anak-anak agar mengimajinasikan perubahan yang dapat terjadi Kampung Beting.” tukas Arni. Tugas yang terasa mustahil berhasil Gemawan hadapi dengan kekuatan cerita dan kepiawaian memetakan masalah.




Meski telah menginisiasi banyak gerakan, langkah Gemawan masih panjang. Kepada Roemah Inspirit Gemawan mengungkapkan visinya membangun Rumah GESIT Borneo Kita. Sebuah upaya mendorong dan menyediakan ruang bagi jejaring lintas provinsi dan negara di Borneo agar dapat berdaya dan terus bersuara–dengan Gemawan sebagai fasilitatornya. Untuk mencapai mimpi ini, Gemawan sadar mereka perlu terus belajar dari masyarakat, sekaligus menguatkan olahan data dari riset lapangan, dan berkonsolidasi dengan organisasi masyarakat sipil lainnya.


Kami mengakhiri sesi lokakarya dengan berbuka puasa bersama. Suasana guyub yang terasa dari awal pertemuan menjadi semakin lekat seiring dihidangkannya berbagai santapan masakan dari dapur kafe Bumi. Di antara tawa dan percakapan yang terjadi malam itu, kami kembali mengingat gambar-gambar yang dibuat anggota Gemawan pagi tadi. Apakah Gemawan ibarat lumbung penampung gagasan bermanfaat? Atau dahan yang memberi kesejukan dan perlindungan? Lalu kami teringat pada percakapan dengan Arni mengenai pertemuan di ruang kopi. Bisa jadi Gemawan adalah uap kopi itu sendiri. Ia menyublim ke udara menghasilkan aroma mengundang yang mengisi ruang-ruang sempit sekalipun, dan membuat siapapun yang disambanginya terpikat, tersentuh, lantas memutuskan untuk duduk, berkumpul, dan mendengarkan.





29 views0 comments

Comments


bottom of page